Pilihan ini mungkin paling tepat dikarenakan tonggak sejarah Keraton Solo cukup melekat berkaitan dengan Joko Tingkir, mungkin saja ada tempat lagi yang memungkinkan mengingat sungai Bengawan Solo merupakan sungai yang cukup panjang hampir sekitar 548,53 km. Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa yang bersumber dari Pegunungan Kidul, Wonogiri dan melintasi dua wilayah administratif propinsi, yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur. Daerah yang dilewati sungai tersebut di antaranya ialah Wonogiri, Pacitan, Sukoharjo, Klaten, Solo, Sragen, Ngawi, Blora, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan bermuara di daerah Gresik.
Prosesi Larung Ageng Gethek Joko Tinggkir itu sendiri, dimulai sekitar pukul 07.00 WIB saat Paundra berpamitan kepada pemangku Pura Mangkunegaran, didampingi peraga Ki Ageng Panjawi dan Ki Ageng Pemanahan. Setelah itu, rombongan yang dikawal prajurit Mangkunegaran menuju Keraton Solo dan diteruskan menuju Pesanggrahan Langenharjo, Sukoharjo.
Kedatangan rombongan Jaka Tingkir beserta pengombyong di pesanggrahan, disambut dengan gending Manguyu-uyu dan Tari Gambyong. Mereka diterima peraga Ki Ageng Majasta dan Ki Ageng Banyubiru. Acara kemudian diteruskan dengan pembacaan sambutan ketua panitia pelaksana Larung Ageng Gethek Joko Tingkir Gembong Supriyanto sambutan Bupati Sukoharjo Bambang Riyanto SH, dan wakil dari Keraton Kasunanan, GRAy Koes Moertiyah. Upacara pemberangkatan kemudian ditutup dengan pembacaan kisah Jaka Tingkir oleh KRHT Kalingga Hanggapura beserta doa.
Perjalanan dimulai setelah Pengageng Parentah Keraton Solo GPH Dipokusumo memberikan satang (dayung) kepada GRM Paundra selaku pemeran Joko Tingkir diiringi Tari Gambyong Pareanom. Sebelumnya, GPH Dipokusumo membuka selubung Canthik Rajamala yang berada di haluan salah satu perahu beserta iring-iringan. Iring-iringan akhirnya berangkat sekitar pukul 09.30 WIB ditandai penabuhan gamelan Pencon di atas perahu Rajamala
Perjalanan Larung Ageng Gethek Joko Tingkir itu sendiri menempuh jarak sekitar 30 km. Dibagi menjadi dua bagian, yaitu jalan air dan jalan darat. Pada awal pemberangkatannya dari Pesangngrahan Langenharjo hingga taman Ronggowarsito Jurug “Joko Tingkir” berdiri diatas gethek /rakit bambu sambil memegang satang.
Perjalanan kemudian diteruskan menuju Butuh Sragen, setelah KRHT Tanoyo beserta Walikota Solo dan jajaran Muspida Solo melepas rombongan. Iring-iringan yang sebanyak 16 perahu itu dipandu perahu dari Polres Wonogiri menuju Desa Butuh. Sesampainya di lokasi dekat makam orang tua Jaka Tingkir yang bernama Kebo Kenanga itu, Bupati Sragen yang memerankan Kyai Ageng Butuh menyambut dengan sebuah upacara dan hiburan tarian massal Jaka Tingkir.











Posting Komentar
You Welcome ..!